Kaul

August 2, 2008

Sedikit teman kuliah saya pernah tau, kalo saya pernah punya “wish” yang rada nyeleneh untuk merayakan kelulusan saya dari ITB kelak(sebentar lagi :D). Kaul saya sebutnya. Kaul entah apa yang ada di pikiran saya saat itu sampe nyebut kata itu. Kalau sabda Mas Gama Titis, penggunaan itu sudah tepat sesuai konteksnya.

Nah, sekarang mari ungkap isi kaul yang saya sebut di hadapan sedikit teman2 kuliah saya, yang mungkin saat ini sudah lupa dengan igauan saya saat itu. Saya ingin, kelak setelah lulus dari ITB, keliling pulau Jawa naik kereta api dari Merak sampai Banyuwangi. Wew, sampai sekarang saya sendiri heran dengan yang ada di pikiran saya waktu pertama kali menelurkan ide seaneh atau se-“gila” itu. Tapi, sampai saya menuliskan kalimat ini pikiran itu masih terus terngiang sampai alam bawah sadar saya.

Advertisements

Menghisap Sebatang Lisong

September 30, 2007

karya: W.S. Rendra

melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak-kanak

tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
menghisap udara
yang disemprot deodorant

aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata:
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di-upgrade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung-gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes-protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian

bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra

kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing
diktat-diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa-desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati semua persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah
kehidupan

RENDRA
(ITB
19 agustus 1978 – 15 Ramadhan 1398 Hijriah)


SMS menjelang Ramadhan

September 15, 2007

Sudah galib dan sewajarnya, menurut saya, kalo menjelang Ramadhan ini kita dikirim sms yang isinya cem-macem dari karib kerabat.

Ini cuma sampel sms aja dari sekian banyak yang diterima.

“Yaudah, met mnjalankan ibadah di bln ramadhan ini. Mohon dibukakan pintu maaf selebar2ny,biar g klamaan ngantri.”

//ni orang emang dari gue kenal pertama kali suka nge-garing. Pengen Ramadhan ga berubah juga…

Di pjumpaan mlm di phujung sya’ban,sambut Ramadhan ini dgn kyknan akn “HATI YG BARU” Marhaban ya Ramadhan..Smg 4Wl ridhoi kt dbln yg pnh kmuliaan ini. Amiin..

//saat ini saya sedang penjajakan dgn si pengirim ini. Saya ga ngerti “HATI YG BARU” dimaksud pengirim itu apa, tanda-tanda di-“dumped”? 😦 , smoga bukan… 😀

Bulan ramadhan telah datang, mari kita sambut dengan suka cita. Izinkanlah diri ini memohon maaf,semoga 4JJI mengampuni segala dosa kita. Asep Bagja.

//standar begini mah. Paling dapet dari orang laen di-forward terus ditambahin nama lagi. Peace, sep ! 😀

While(i’ve done anything wrong)do(forgive all my mistakes and don’t have a grudge against me).that’ll be infinite loop, coz i makes mistakes all the time. let’s welcome ramadhan with pure heart as a snow.

//ketauan dari jurusan mana tuh, pake while.. do .. segala plus ada infinite loop pula.

Merugilah orang2 yg melewati ramadhan tp tdk berbekas pd diriny.Sy mhn maaf sebesar2ny atas sgala yg khliaf.smg kt termasuk orang2 yg dsapa ramadhan.#hendro

//standard aktivis da`wah… 🙂

Ga sampe sebulan lagi bakal banjir sms lagi.


Merdeka?

August 17, 2007

//Tadi pagi dapet sms dari nomor IM3 siapa lah yang gak dikenal..

kata yang ikut upacara, kita sudah merdeka.

ya kita sudah merdeka, puluhan tahun yang lalu.

merdeka untuk menjajah kembali bangsa sendiri,

jadi tolong jangan berteriak merdeka hari ini..

selamat hari raya kemerdekaan Indonesia 1945. HME mengucapkan mohon maaf lahir batin.

merdeka ga merdeka asal HME.

p.s. : aya-aya wae iyeuh keprofesian HME 😉

tetep kritis n dinamis lah.


Ada Uang Kecil Ga?

July 20, 2007

Seringkali kita diminta penjual atau kasir agar membayar dengan uang yang nominalnya lebih kecil. Seringkali pula si penjual atau kasir menyelipkan rasa kesal yang dipancarkan lewat senyum kecut dan nada tinggi selagi meminta pembeli bayar pake uang ‘kecil’ aja. Alasannya adalah supaya lebih gampang kembaliannya. Alasan lainnya adalah karena enggak ada uang kembaliannya kalo dibayar pake uang yang nominalnya besar.

Alasan kedua mudah-mudahan bisa kita terima semua. Namun, yang sering saya alami adalah si penjual atau kasir masih memiliki uang kembalian yang benar2 cukup untuk membayar uang kembalian, walaupun kita bayar dengan uang ‘besar’. Saya dongkol diperlakukan seperti itu oleh penjual atau kasir. Penjual atau kasir macam itu seperti tidak menghargai pembeli saja yang sudah mau membeli di tokonya. Seringkali saya ingin menanyakan ke penjual atau kasir kalau ada kembaliannya kenapa saya harus bayar pake uang ‘kecil’. Toh, saya pun memang lagi gak punya uang ‘kecil’. Mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya rasakan. 😀

Saya coba menanyakan hal seperti ini ke kakak saya yang sudah 6 tahun ini tinggal di Jepang. Ternyata selama 6 tahun di Jepang, dia tidak pernah mengalami sekalipun hal yang sering saya alami. Katanya baik membayar dengan uang ‘kecil’ ataupun ‘besar’ untuk nilai belanja yang sedikit tetap dilayani dengan ramah dan tidak pernah sekalipun ditanyai,”ada uang kecil ga?” Katanya penjual atau kasir di sana menerapkan prinsip pembeli adalah dewa, sehingga pembeli dilayani dengan pelayanan yang sangat baik.

Mudah2an ada penjual atau kasir yang melihat tulisan ini menjadi sadar terhadap pentingnya pelayanan yang baik kepada pembeli. Semoga. 😀