Ratapan Anak Bangsa di Layar Kaca

—————————————————————————————————————————

Selama “rating” masih dijadikan patokan oleh pertelevisian, selama itu pula pendidikan lewat televisi tidak berjalan. Manajer humas Indosiar, Gufroni Sakaril, menyebutkan film televisi lepas yang diberi tajuk sinema utama seperti ‘Aku bukan anak tiri’ itu memperoleh rating tinggi. Jadi bisa dikatakan sinetron seperti itu memang disukai dan ditonton masyarakat,” katanya.

Hal sama dikatakan GM Produksi RCTI Indra Yudhistira. Ia sebenarnya ingin menyajikan sinetron yang lebih baik, namun justru tayangan yang menurut dia baik itu memperoleh rating rendah. “Serial Jomblo, itu jelas bagus, tetapi ratingnya rendah. Mau bagaimana? Lembaga survey AGB Nielsen masih menjadi patokan yang bisa dipercaya,” ujarnya.

Industri televisi butuh hidup untuk membiayai produksi. Rating rendah akan berpengaruh pada perolehan iklan yang rendah pula sehinggatidak bisa menutup biaya produksi. Alasan yang selalu dikemukakan itu memang masuk akal.

Indra mengaku ingin membongkar wajah persinetronan di layar kaca, terutama di RCTI, namun tentu membutuhkan dukungan. Beberapa waktu lalu, ia terpilih menjadi salah satu juri pada International EMMY Awards – sebuah ajang penghargaan internasional untuk berbagai program televisi. Program-program televisi Asia yang masuk unggulan antara lain dari Jepang, China, Singapura, India, dan Filipina. Singapura, misalnya, unggul dalam program dokumenter, sementara Jepang dalam program artistik. Uniknya Indra bisa terpilih menjadi juri, padahal tidak satu pun program dari televisi Indonesia masuk kriteria. “Saya belajar banyak. Saya melihat program di televisi Jepang dan Korea, misalnya, memang sangat bagus. Televisi kita belum bisa mengimbangi,” ujar Indra mengakui.

Tarik-menarik antara idealisme dan komersialisme di jagat pertelevisian agaknya akan selalu ada. Sejak tahun 1990-an televisi sudah kerap dikritik soal kekerasan dan cerita tidak masuk akal itu, namun seperti layaknya tren, hal itu berulang dan berulang lagi.

Barangkali bukan anak tiri yang meratap, tetapi anak bangsa.

—————————————————————————————————————————-

sumber: kompas minggu, 29 juli 2007

komentar / pertanyaan saya:

Akankah sampe matahari terbit dari barat pemirsa Indonesia terus disuguhi tayangan seperti yang sekarang kita tonton?

Advertisements

6 Responses to Ratapan Anak Bangsa di Layar Kaca

  1. Fajar says:

    ah emang sudah sifat dasar dari bangsa indonesia adalah bangsa dan pemalas dan bangsa peniru !!
    gw diajarin waktu SMA, pelajaran sosiologi

  2. arif says:

    ayo wan, nonton soleha, liat marshanda jadi guru ngaji. mendidik itu. hihihi

  3. Ridwan says:

    @fajar

    plus cepat pelupa

    @maw

    yuk kita tonton, tapi sampe rumah jam 8 malem seringnya makanya sering ga nonton. 😀

  4. firman says:

    udah klo kata sya mah, ga usah nonton2 tayangan kyk gini, males BGT!!! 😀

  5. ayahshiva says:

    intinya yang menjadi prioritas utama mereka adalah sisi komersil

  6. Ridwan says:

    @firman

    nonton dorama wae lah kalo gituh 🙂

    @ayahshiva

    uang itu ” no.1 ” di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: