Kaul

August 2, 2008

Sedikit teman kuliah saya pernah tau, kalo saya pernah punya “wish” yang rada nyeleneh untuk merayakan kelulusan saya dari ITB kelak(sebentar lagi :D). Kaul saya sebutnya. Kaul entah apa yang ada di pikiran saya saat itu sampe nyebut kata itu. Kalau sabda Mas Gama Titis, penggunaan itu sudah tepat sesuai konteksnya.

Nah, sekarang mari ungkap isi kaul yang saya sebut di hadapan sedikit teman2 kuliah saya, yang mungkin saat ini sudah lupa dengan igauan saya saat itu. Saya ingin, kelak setelah lulus dari ITB, keliling pulau Jawa naik kereta api dari Merak sampai Banyuwangi. Wew, sampai sekarang saya sendiri heran dengan yang ada di pikiran saya waktu pertama kali menelurkan ide seaneh atau se-“gila” itu. Tapi, sampai saya menuliskan kalimat ini pikiran itu masih terus terngiang sampai alam bawah sadar saya.


Artikel Paling Menarik di Bulan Ramadhan

October 12, 2007

 Walau udah ada yang idul fitri sekarang, walau ntar ada yang bilang basbang. Terserah😛 . Yang penting ini artikel yang paling bagus yang saya temuin di internet selama Ramadhan ini.

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita “Kalau sudah besar mau jadi apa?” Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. “Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di Masjidil Haram!). ” Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir seluruh juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak yang dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir dari pasangan muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan polos terdengar. “Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)” Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun, tidak begitu jika ditanya “Ismail orang mana?” Sosok kecilnya akan tegas menjawab “Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). ” Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia tahu hanyalah kebanggaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang lahir di negeri sakura.

Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhah serta beberapa jundi cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.
Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk menambah ‘charge’ ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.

Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar daripada badannya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun, tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.

Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Mereka akan menjadipenegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan “Saya adalah muslim. ” Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.

Copyright Lizsa Anggraeny @ PMIJ


Menghisap Sebatang Lisong

September 30, 2007

karya: W.S. Rendra

melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak-kanak

tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
menghisap udara
yang disemprot deodorant

aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata:
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di-upgrade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung-gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes-protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian

bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra

kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing
diktat-diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa-desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati semua persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah
kehidupan

RENDRA
(ITB
19 agustus 1978 – 15 Ramadhan 1398 Hijriah)


Milad Republik Indonesia ke-64

September 22, 2007

Ini cerita tentang versi lain tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Yang penting semuanya udah pada tau kalo di bulan Ramadha

17 Agustus 2007 = x Ramadhan y Hijriah ?

Mari kita cari solusi dari x dan y

Versi 1, dari buku.

Di buku 11 Macan Asia Musuh Amerika. Diceritain tentang pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai tanggal proklamasi karena bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, yang diyakini banyak orang sebagai tanggal Nuzulul Quran. Tapi di buku itu ga disebutin tahun berapa hijriah tepatnya.

Versi 2, dari program.

Pakai software Calendar Magic didapat x = 9 , y= 1364.  Karena jadi ada 2 versi tanggal, cari di web aja.

Versi 3, dari web.

Di sini  menghasilkan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah.

Oke, skor 2-1 untuk tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah.

Sementara, x=9 dan y=1364, kalau ada yang bisa ngasih tau tanggal validnya bisa berubah lagi.

Karena 9 Ramadhan 1428 H kemaren, jadi udah 64 tahun kita merdeka. MERDEKA !!!


SMS menjelang Ramadhan

September 15, 2007

Sudah galib dan sewajarnya, menurut saya, kalo menjelang Ramadhan ini kita dikirim sms yang isinya cem-macem dari karib kerabat.

Ini cuma sampel sms aja dari sekian banyak yang diterima.

“Yaudah, met mnjalankan ibadah di bln ramadhan ini. Mohon dibukakan pintu maaf selebar2ny,biar g klamaan ngantri.”

//ni orang emang dari gue kenal pertama kali suka nge-garing. Pengen Ramadhan ga berubah juga…

Di pjumpaan mlm di phujung sya’ban,sambut Ramadhan ini dgn kyknan akn “HATI YG BARU” Marhaban ya Ramadhan..Smg 4Wl ridhoi kt dbln yg pnh kmuliaan ini. Amiin..

//saat ini saya sedang penjajakan dgn si pengirim ini. Saya ga ngerti “HATI YG BARU” dimaksud pengirim itu apa, tanda-tanda di-“dumped”? 😦 , smoga bukan…😀

Bulan ramadhan telah datang, mari kita sambut dengan suka cita. Izinkanlah diri ini memohon maaf,semoga 4JJI mengampuni segala dosa kita. Asep Bagja.

//standar begini mah. Paling dapet dari orang laen di-forward terus ditambahin nama lagi. Peace, sep !😀

While(i’ve done anything wrong)do(forgive all my mistakes and don’t have a grudge against me).that’ll be infinite loop, coz i makes mistakes all the time. let’s welcome ramadhan with pure heart as a snow.

//ketauan dari jurusan mana tuh, pake while.. do .. segala plus ada infinite loop pula.

Merugilah orang2 yg melewati ramadhan tp tdk berbekas pd diriny.Sy mhn maaf sebesar2ny atas sgala yg khliaf.smg kt termasuk orang2 yg dsapa ramadhan.#hendro

//standard aktivis da`wah… 🙂

Ga sampe sebulan lagi bakal banjir sms lagi.


Merdeka?

August 17, 2007

//Tadi pagi dapet sms dari nomor IM3 siapa lah yang gak dikenal..

kata yang ikut upacara, kita sudah merdeka.

ya kita sudah merdeka, puluhan tahun yang lalu.

merdeka untuk menjajah kembali bangsa sendiri,

jadi tolong jangan berteriak merdeka hari ini..

selamat hari raya kemerdekaan Indonesia 1945. HME mengucapkan mohon maaf lahir batin.

merdeka ga merdeka asal HME.

p.s. : aya-aya wae iyeuh keprofesian HME😉

tetep kritis n dinamis lah.


Ratapan Anak Bangsa di Layar Kaca

July 30, 2007

—————————————————————————————————————————

Selama “rating” masih dijadikan patokan oleh pertelevisian, selama itu pula pendidikan lewat televisi tidak berjalan. Manajer humas Indosiar, Gufroni Sakaril, menyebutkan film televisi lepas yang diberi tajuk sinema utama seperti ‘Aku bukan anak tiri’ itu memperoleh rating tinggi. Jadi bisa dikatakan sinetron seperti itu memang disukai dan ditonton masyarakat,” katanya.

Hal sama dikatakan GM Produksi RCTI Indra Yudhistira. Ia sebenarnya ingin menyajikan sinetron yang lebih baik, namun justru tayangan yang menurut dia baik itu memperoleh rating rendah. “Serial Jomblo, itu jelas bagus, tetapi ratingnya rendah. Mau bagaimana? Lembaga survey AGB Nielsen masih menjadi patokan yang bisa dipercaya,” ujarnya.

Industri televisi butuh hidup untuk membiayai produksi. Rating rendah akan berpengaruh pada perolehan iklan yang rendah pula sehinggatidak bisa menutup biaya produksi. Alasan yang selalu dikemukakan itu memang masuk akal.

Indra mengaku ingin membongkar wajah persinetronan di layar kaca, terutama di RCTI, namun tentu membutuhkan dukungan. Beberapa waktu lalu, ia terpilih menjadi salah satu juri pada International EMMY Awards – sebuah ajang penghargaan internasional untuk berbagai program televisi. Program-program televisi Asia yang masuk unggulan antara lain dari Jepang, China, Singapura, India, dan Filipina. Singapura, misalnya, unggul dalam program dokumenter, sementara Jepang dalam program artistik. Uniknya Indra bisa terpilih menjadi juri, padahal tidak satu pun program dari televisi Indonesia masuk kriteria. “Saya belajar banyak. Saya melihat program di televisi Jepang dan Korea, misalnya, memang sangat bagus. Televisi kita belum bisa mengimbangi,” ujar Indra mengakui.

Tarik-menarik antara idealisme dan komersialisme di jagat pertelevisian agaknya akan selalu ada. Sejak tahun 1990-an televisi sudah kerap dikritik soal kekerasan dan cerita tidak masuk akal itu, namun seperti layaknya tren, hal itu berulang dan berulang lagi.

Barangkali bukan anak tiri yang meratap, tetapi anak bangsa.

—————————————————————————————————————————-

sumber: kompas minggu, 29 juli 2007

komentar / pertanyaan saya:

Akankah sampe matahari terbit dari barat pemirsa Indonesia terus disuguhi tayangan seperti yang sekarang kita tonton?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.